Pada 1985, ia Raisi menjadi wakil jaksa di ibu kota negara Iran, Tehran. Kariernya terus naik dengan jabatan-jabatan prestisius seperti kepala Organisasi Inspeksi Umum (199-2004) dan jaksa agung Pengadilan Khusus (2012-2021).
Jaksa agung ini bertugas mengawasi integritas badan dan pejabat pemerintah Iran. Di luar bidang peradilan, ia juga seorang anggota Majelis Ahli (2007-2024) yang merupakan sebuah badan musyawarah dengan tugas mengganti rahbar (pemimpin iran) jika jabatan tersebut kosong.
Dalam posisi tersebut, Raisi menguasai aset bernilai miliaran dolar dan menjalin hubungan dengan kelompok elit agama dan bisnis di Masyhad, kota terbesar kedua di Iran.
Raisi, yang memiliki dua anak perempuan, juga merupakan menantu Ahmad Alamolhodaei, pemimpin salat Jumat garis keras di Masyhad, yang dikenal karena pidato-pidato ultrakonservatifnya yang berapi-api serta pernyataan dan gagasannya yang sangat kontroversial.
Sempat Kalah Dalam Pemilu
Dengan jabatan baik di dunia peradilan, Raisi terkenal sebagai kritikus pemerintah yang keras terhadap korupsi. Pada tahun 2017, ia mencalonkan diri sebagai presiden untuk pertama kalinya yang melawan petahana Hassan Rouhani.
Ia mengkritik Rouhani karena membuat perjanjian nuklir internasional Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Perjanjian ini melibatkan Iran dan negara-negara besar untuk pencabutan sanksi multilateral pada program nuklir berbagai negara.
Sayangnya ia kalah dalam pemilu melawan Ruhani dan melanjutkan karier sebagai Hakim Agung pada tahun 2019. Ketika menjabat ia mengusut banyak kasus korupsi terhadap pejabat pemerintah dan pengusaha terkemuka secara selektif.
Sidang disiarkan secara luas di televisi yang berakibat banyak kritik timbul pada pemerintahan Rouhani. Berlanjut, Riasi kembali mencalonkan diri dalam pemilihan presiden tahun 2021 dengan citra pembela yang berprinsip melawan korupsi pemerintah.
Ia juga menyatakan dukungan untuk merundingkan perjanjian nuklir internasional dengan mengutamakan kepentingan Iran. Pemilu ini berhasil dimenangkannya dan dilantik pada bulan Agustus 2021.
Tidak selalu mulus, pada pemerintahan Raisi terjadi protes besar-besaran di seluruh Iran yang dipicu oleh kematian seorang wanita berusia 22 tahun dalam tahanan polisi pada tahun 2022. Kasus ini akhirnya menimbulkan terbukanya banyak keluhan yang dialami masyarakat Iran.
Mulai dari penindasan terhadap perempuan hingga penindasan terhadap kelompok minoritas dan ketidakpedulian pemerintah terhadap kesejahteraan warganya. Sayangnya respon Raisi malah menyalahkan aktor asing yang menyebabkan kerusuhan.